alergi mpasi
Alergi MPASI: Telur, Ikan, dan Kacang
Alergi makanan pada MPASI merupakan reaksi sistem imun tubuh terhadap protein makanan tertentu. Memahami perbedaan alergi IgE vs non-IgE dan protokol pengenalan alergen sangat penting bagi keselamatan bayi.

Bacakan Artikel
Asisten Suara MPASI (Bahasa Indonesia)
Bagikan Panduan Ini:
Daftar Isi Panduan
Lompat langsung ke topik
Ringkasan praktis
Kenalkan bahan berpotensi alergen satu per satu dalam jumlah kecil selama 3 hari berturut-turut. Jangan pernah menunda pengenalan alergen tanpa indikasi medis resmi.
Coba di Kalkulator MPASIKlasifikasi Medis Alergi Makanan: IgE vs Non-IgE Mediated
Reaksi alergi makanan dikategorikan menjadi dua mekanisme imunologis utama:
1. Reaksi Cepat (IgE-Mediated): Muncul dalam hitungan menit hingga 2 jam pasca makanan tertelan. Gejala meliputi bentol-bentol gatal merah (urtikaria), bibir/kelopak mata bengkak (angioedema), muntah menyembur, atau yang paling berat adalah Anafilaksis (sesak napas dan penurunan kesadaran).
2. Reaksi Lambat (Non-IgE Mediated): Muncul 4 hingga 48 jam kemudian. Gejala umumnya terkonsentrasi di saluran cerna seperti diare kronis (bisa bercampur lendir/darah), kram perut hebat, atau kambuhnya dermatitis atopik (eksem kulit).
Daftar 8 Alergen Makanan Teratas (Top 8 Food Allergens)
Sekitar 90% reaksi alergi makanan dipicu oleh 8 kelompok protein utama:
• Telur ayam (khususnya protein ovalbumin pada putih telur).
• Ikan laut & Seafood (udang, kepiting, cumi).
• Susu Sapi & produk turunannya.
• Kacang Tanah (Peanuts) & Tree Nuts (kacang almond/mete).
• Kedelai (Soy) & Gandum (Gluten/Wheat).
Protokol Aman Pengenalan Alergen (The 3-Day Rule)
Pedoman IDAI dan EAACI merekomendasikan pengenalan bahan alergen potensial sejak usia 6 bulan secara terstruktur:
• Uji Tunggal (Single Test): Kenalkan 1 jenis bahan alergen baru (misal: kuning telur) dicampur ke makanan aman yang sudah biasa dikonsumsi bayi.
• Amati Selama 3 Hari: Berikan bahan tersebut selama 3 hari berturut-turut dalam porsi kecil tanpa mengenalkan bahan baru lainnya.
• Dokumentasikan: Jika tidak muncul reaksi kulit atau pencernaan, bahan tersebut dinyatakan aman dan dapat dijadikan menu rutin.
Tanda Bahaya Anafilaksis & Penanganan Darurat
Anafilaksis adalah reaksi alergi sistemik berat yang mengancam jiwa:
• Gejala: Bayi mendadak sesak napas, mengorok (wheezing), suara serak, wajah membiru/pucat pasi, atau lemas tidak sadarkan diri.
• Tindakan Darurat: Segera bawa bayi ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat. Jangan memberikan minum atau mencoba menginduksi muntah secara mandiri.
Tracker Alergen di Platform IbuMPASI
Gunakan fitur Tracker Alergen dan Jurnal Harian MPASI di IbuMPASI untuk mencatat setiap pengenalan bahan baru.
Pencatatan harian ini sangat membantu dokter spesialis anak dalam mengidentifikasi pola alergi spesifik bayi Anda.
Lanjut baca
Halaman yang nyambung dengan topik ini
Referensi
- WHO Guideline for complementary feeding of infants and young children 6-23 months of age. World Health Organization, 2023: rujukan umum prinsip MPASI, variasi makanan, keamanan, dan feeding responsif.
- UNICEF: Feeding your baby 6-12 months. UNICEF Parenting: ringkasan praktis tentang frekuensi makan, tekstur, dan tanda lapar atau kenyang bayi.
- Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi. Kementerian Kesehatan RI, 2019: acuan AKG yang dipakai sebagai dasar target harian di IbuMPASI.
- Buku Saku Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA). Kementerian Kesehatan RI: rujukan praktis konseling PMBA untuk tenaga kesehatan dan kader.
- Tabel Komposisi Pangan Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia: rujukan komposisi pangan lokal untuk beberapa bahan MPASI.
- USDA FoodData Central. U.S. Department of Agriculture, Agricultural Research Service: rujukan komposisi pangan per bahan.
Hitung otomatis
Cek bahan dan gram MPASI di kalkulator
Setelah membaca panduan, masukkan bahan yang ada di rumah. IbuMPASI akan membantu menghitung estimasi target per porsi secara gratis dan otomatis.